Serunya Mengajak Anak-anak Membuat Game Bersama

Sudah lebih dari dua minggu saya berada dirumah sejak kembali dari kota yang terkenal dengan Jembatan Merah Putihnya. Tetapi kenangan serunya jalan-jalan, pesta durian, kekenyangan papeda, dikejar anjing bahkan sampai pengalaman sembunyi karena ada kelompok yang sedang konflik hingga ditenangkan polisi dengan tembakan, masih teringat dengan jelas.

Apalagi keramahan Saudara yang menyenangkan dan keponakan yang tak henti-hentinya selalu penuh dengan kelucuan, membuat saya jadi pengen kembali. Kota dengan bandara Pattimuranya ini memang salah satu kota yang penuh dengan kenangan seru dan memicu kerinduan untuk suatu saat balik kesana lagi.

Sebelum saya pulang disaat-saat masih bersama-sama dengan keponakan yang kecil-kecil, banyak keseruan yang membuat saya juga ingin meninggalkan kenangan indah bagi mereka. Saya tidak ingin memberikan uang atau benda yang suatu saat mudah hilang, tapi saya ingin memberi sesuatu yang berguna dan dapat selalu mengikuti mereka terus. Salah satu caranya adalah dengan membagi pengetahuan, walau dikata cuma alasan karena gak punya uang. 

Tentu saja saya ingin mereka tetap happy tapi juga sambil belajar pengetahuan baru, maka pendekatan yang saya gunakan adalah dengan game. Namanya anak-anak jaman sekarang pasti sudah akrab dengan gadget salah satunya buat main game. Gak perlu dipungkiri lagi, karena memang jaman sekarang beda dengan jaman saya kecil dulu, dimana saya suka permainan paling canggih pada masa itu yaitu membuat pesawat, walaupun dari kertas.

Mengajak Anak-anak Membuat Game Sendiri

Saya memang gak menyalahkan anak-anak jaman sekarang yang banyak bermain game di gadget, memang mereka hidup di zaman canggihnya ponsel pintar saat ini. Tapi bukan terus di biarkan gak terkontrol, maka saya ingin mengajak mereka dengan tetap bisa bermain, bukan hanya bermain tapi juga dengan membuatnya sendiri. Iya benar membuat video game sendiri. 


Sebelum saya mengajari mereka, saya ajak dulu mereka bermain game. Kemudian ditengah keseruan mereka main, saya tawari apakah mereka juga mau membuat game seperti yang mereka mainkan? Karena tawaran saya disambut baik maka saya juga bersemangat.

Pada saat mengajak tersebut, kebetulan juga didukung dengan saudara saya selaku orang tua keponakan-keponakan saya tersebut. Jadi kesempatan ini saya coba manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Untuk mengajak anak mulai belajar membuat game tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya apalagi kebetulan keponakan-keponakan saya berada pada rentang usia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. 

Tapi saya senang, saya pikir bisa sambil melakukan penelitian kecil-kecilan dengan cara perlakuan pengajaran yang sama pada perwakilan kelompok umur berbeda maka saya bisa mencari tahu mulai usia dan tingkat pendidikan bagaimana yang dapat dengan mudah diajari untuk membuat game. Ya mungkin sok-sok an saja biar kaya penelitian, jadi bahasanya diartikel ini di-keren-kerenkan.

Untuk mengajari mereka membuat game memang sudah seharusnya jauh dari kata susah. Namanya anak-anak kalau sudah susah maka bisa jadi gak tertarik lagi dan kalau dipaksa malah jadi trauma. Maka cara ngajar dan alat yang saya gunakan harusnya dapat menyenangkan. 

Oleh karena hal itu maka saya harus menggunakan cara lain bukan dengan cara yang biasa saya gunakan pada mahasiswa. Dari beberapa pertimbangan saya sebelumnya akhirnya saya memutuskan untuk mengajarkan membuat game dengan bantuan Construct 2, yang memiliki berbagai kelebihan tanpa harus melakukan coding dan bahkan dapat digunakan untuk membuat game profesional tanpa harus terlalu susah.  

Sebagai persiapan sebelum mengajari mereka, saya mulai dengan menginstall aplikasi Construct 2 ke laptop yang sudah tersedia buat sarana belajar. Setelah saya install saya mulai mengajak mereka untuk membuat karakter di game. Dilanjutkan dengan cara menggerakkan karakter, membuat karakter lain, membuat interaksi antara karakter, menerapkan aturan menang dan kalah dan seterusnya.

Ditengah proses pembuatan ada saja yang tidak sabar ingin game-nya segera jadi dan segera pengen memainkannya. Tetapi ada juga yang tiba-tiba pergi "berubah menjadi robot dan mengalahkan Si Monster guling" sekali lagi.

Singkat kata dari 4 orang keponakan yang diajak membuat game, yang bertahan terus sampai selesai ternyata tinggal satu orang keponakan hingga game bisa dimainkan. Akhirnya game pun dimainkan bersama-sama sebab yang tadinya sudah pada pergi jadi kembali lagi saat maen. 

Apapun hasilnya saya maklum saja karena memang tujuannya adalah supaya mereka tahu dulu bagaimana caranya membuat game. Jadi selain memainkan game ternyata membuatnya juga seru, meski harus sabar agar bisa sampai jadi dan bisa dimainkan.

Posting Komentar