Cara Membuat Tampilan Game Phaser Otomatis Mengikuti Ukuran Layar Perangkat

Pada saat membuat game dengan Phaser versi 2, setelah Game dapat berjalan dengan baik pada layar komputer maka selanjutnya adalah menguji coba game dilayar perangkat. Masalahnya setiap perangkat mobile seperti Android dan iPhone pada umumnya memiliki ukuran resolusi yang berbeda-beda. Dengan banyaknya perbedaan itu maka game yang sudah tampil bagus disatu perangkat belum tentu juga akan sama bagusnya diperangkat yang lain.

Masalah ini akan selalu dihadapi bila game akan dirilis. Oleh sebab itu, kita harus segera menemukan solusinya. Salah satu cara yang disarankan adalah dengan membuat game dapat mendeteksi sendiri ukuran layar kemudian menyesuikan secara otomatis setiap kali game sedang diload.

Cara Membuat Phaser Menyesuaikan Ukuran Layar Perangkat

Pertama kita tentukan dulu ukuran game yang kita inginkan dalam variabel, ukuran landscape berarti lebar lebih dari tingginya atau potrait berarti ukuran tingginya lebih dari lebarnya.

var targetWidth = 720; // lebar game yang kita inginkan
var targetHeight = 480; // tinggi game yang kita inginkan

// Ukuran rasio

//Small – 360x240
//Normal – 480x320
//Large – 720x480
//XLarge – 960x640
//XXLarge – 1440x960

//aspect ratio perangkat
var deviceRatio = (window.innerWidth/window.innerHeight);

//ratio baru menyesuaikan ukuran layar
var newRatio = (targetHeight/targetWidth)*deviceRatio;

var newWidth = targetWidth*newRatio;
var newHeight = targetHeight;

var gameWidth = newWidth;
var gameHeight = newHeight;
var gameRendrer = Phaser.AUTO;


Kemudian Tambahkan kode berikut di dalam state boot sehingga kode ini akan dijalankan lebih dulu dan akan dieksekusi setiap game dijalankan.
//Kode pada state Boot
game.scale.scaleMode = Phaser.ScaleManager.SHOW_ALL;

        game.scale.pageAlignHorizontally = true;
        game.scale.pageAlignVertically = true;
        game.scale.forceLandscape = true;
        game.scale.setScreenSize(true);

Anda juga boleh mengubah ukuran menjadi potrait seperti berikut:
var targetWidth = 480; // lebar game yang anda inginkan
var targetHeight = 720; // tinggi game yang anda inginkan
Setelah itu maka Game akan dapat ditampilkan menyesuaikan pada resolusi perangkat setiap diload. Contohnya seperti berikut:
tampilan game di smartphone
Tampilan di Smartphone
Game Phaser tampil apik di layar tablet
Tampilan di Tablet






Dihisap Mahluk Peliharaan Penghuni Kost

Semasa kuliah selepas lulus SMA dulu, saya tinggal di kost jauh dari orang tua. Seperti layaknya kost disekitar kampus pada umumnya, tempat itu juga dihuni banyak mahasiswa lainnya. Mungkin selain karena tarifnya terjangkau secara keuangan, tempat tersebut juga tidak terlalu jauh dari kampus sehingga dapat ditempuh dengan  jalan kaki.

Kami sesama penguni kost, kuliah di kampus dan Universitas yang berbeda-beda dengan jurusan yang beragam. Ada yang jurusan ilmu pendidikan, MIPA, kesehatan dan paling banyak adalah dari Kedokteran Hewan.

Sewaktu menjadi anak kos, banyak suka dukanya, salah satunya mungkin bisa menjadi sepenggal kisah  unik bila diceritakan lagi sekarang. Salah satunya adalah tentang keberhasilan diet kami para penghuni kost secara berjamaah. Kami semasa kost punya postur badan yang relatif sama, walaupun kami tidak saling janjian.

Awalnya saya mengira kalau kami berbadan singset dan cenderung nampak alur tulangnya, akibat banyak jalan kaki. Kemana-mana banyak jalan karena harus irit. Hal itu ditambah parah akibat tidak stabilnya asupan gizi yang biasanya ada saat awal bulan dan harus banyak berhemat saat mendekati tanggal akhir bulan.

Tapi usut punya usut dugaan saya itu tidak sepenuhnya benar. Ternyata ada faktor lain yang juga berperan dalam kesuksesan kami menjaga berat badan.

mahluk penghisap darah

Ternyata ada campur tangan mahluk yang kalau malam suka menghisap saripati kehidupan orang yang sedang tidur. Pada awalnya saya mengkambing hitamkan hewan makanan cicak yang suka sedot-sedot,  tapi ternyata saya salah. 

Setelah teman kost memiliki beberapa bukti adanya mahluk lain yang bergerilya di waktu kami terlelap setiap malam. Yaitu banyaknya bercak darah dipermukaan dan di pinggir kasur, sehingga membuat saya yakin fix bahwa serangan bukan dari atas. 

Saya baru menyadari bahwa ada mahluk yang juga gemar menikmati hasil jerih payah kami dalam mengumpulkan setiap tetesnya untuk dapat bertahan hidup sewaktu ngekos. 

Mahluk itu pintar menghilang sehingga memiliki daya juang untuk bertahan hidup yang mungkin turut  menginspirasi para pejuang di perang Vietnam. Bahkan begitu sadisnya karena saat menyerang mahluk ini tidak pandang bulu, bisa menyerang pada area tubuh korban mana saja. 

serangan mahluk peliharaan penghuni kost
ilustrasi serangan dari The Asian Parent

Kalau sudah menyerang mereka dapat menembus pakaian. Mungkin kalau sedang sadar cuma akan terasa sensasi gatal tapi serangan tidak cukup sekali saja dan tidak hanya pada satu tempat. Mereka bisa semalaman menyerang dari bawah posisi bagian tubuh bersentuhan dengan  permukaan benda yang menjadi tumpuan saat tidur. 

Maka sejak tahu pola serangan mereka, kami semua penghuni kost mengusahakan agar tidak pernah tidur dengan posisi tengkurap bila tidak ingin terkena serangan pada bagian vital.

Kalau sudah mengincar suatu area baru, mereka mudah sekali mengumpulkan pasukan dengan berkembang biak membentuk koloni baru. Sehingga saking banyak jumlahnya membuat orang yang  melihatnya tidak tahan berlama-lama karena begidik.

Dengan kemampuannya mereka bisa bersembunyi disela-sela lubang yang bahkan tidak akan mungkin ditinggali manusia. Seperti lubang sekrup, lipatan sofa, bahkan lubang stop kontak listrik juga bisa mereka tinggali. Konon juga ada yang ditemukan di lubang "..." teman kami.

Bila mereka tertangkap kami sangat gemas sehingga tidak peduli lagi undang-undang HAM. Dan uniknya saat penghabisan, mereka masih saja bisa mengeluarkan serangan pamungkas dengan baunya, sampai-sampai membuat kami berteriak "Dasar! Kutu Busuk".

Ada Apa dengan Tempat Ini?

Hari ini sinar matahari nampak semburat mewarnai langit yang cerah bak menyambut semangat baru. Bulan Agustus atau September biasanya menjadi bulan yang menjadi awal mahasiswa baru memasuki masa orientasi kampus. Saya jadi teringat pada saat awal menjadi mahasiswa dulu dimana sangat senang karena diterima di sebuah Universitas Negeri yang terkenal dengan jurusan Kedokterannya di Surabaya. 

Saya saat itu diterima masuk di jurusan D3 kesehatan tapi tidak satu lokasi dengan kampus kedokteran. Walaupun saya bukan jurusan kedokteran, tapi karena masih satu rumpun kesehatan ternyata ada saat nantinya saya juga mencicipi kuliah di ruang kelas kedokteran. 

pelajaran dari kost

Sayangnya kegembiraan saya karena diterima ternyata tidak berlangsung lama, walaupun diterima di kampus jurusan cukup yang banyak diincar calon mahasiswa ternyata ada beberapa hal yang saat itu membuat saya cukup menjadi baper. 

Pertama masuk tentunya ada acara orientasi kampus yang menurut saya saat itu gak banyak gunanya selain cuma untuk melanggengkan tradisi senioritas. Banyak hal dalam kegiatan tersebut yang saya rasa tidak mendidik yang tetap harus saya ikuti. Untungnya masa itu sudah lewat, kabarnya sekarang tradisi ospek atau semacamnya sekarang menjadi lebih bermutu dan bermartabat.

Selain kegiatan Ospek diawal menjadi mahasiswa, saya juga cukup syok dengan perbedaan kondisi lingkungan saya tinggal dimana saat itu nge-kost dengan tempat awal saya tinggal. Awalnya saya cuma merasa sedang mengalami homesick alias kangen rumah atau bahasa kerennya "mbok-mbok en". 

Memang diawal mungkin gejalanya sama yaitu pengen pulang gak tahan ditempat baru. Kemudian menyalahkan hawa yang cenderung lebih panas, aroma air kotor dimana-mana, bahkan aroma kupang busuk yang tercium semerbak seperti sampai meresap masuk ke pakaian dalam. Tapi ternyata ada hal yang cukup kuat menjadi alasan bahwa saya bukan mengalami homesick. 

Hal tersebut salah satunya terjadi ketika saya setiap kali ketemu kakak-kakak tingkat, walaupun di jurusan yang berbeda dan lokasi kampus berbeda setiap kali saya ditanya perihal tinggal di kosan mana? ketika saya memberi jawaban jujur mereka langsung paham lokasinya. Seakan-akan kosan saya itu sudah cukup terkenal. Awalnya saya mungkin bangga, tapi setelah berkali-kali demikian dengan kakak yang lain dan respon mereka rata-rata menampilkan mimik yang aneh, membuat saya mulai penasaran ada apa dengan tempat kost yang saya tinggali. 

Selain itu teman-teman kuliah terutama yang cewek-cewek mereka sama sekali gak mau masuk ke area kost. Bahkan kalau ada perlu maka mereka rela menunggu diluar pagar kost tanpa mau masuk ke halaman. Heran..

Hingga suatu ketika saya pernah main ke tempat kost lain yang ditinggali teman saya satu kampus, kebetulan ada Ibu kostnya yang sedang menyapu kemudian menegur saya. Seperti pada umumnya awalnya Ibu kost tersebut bertanya dimana saya tinggal, kemudian setelah saya jawab Ibu kost tersebut kemudian berpesan agar saya harus tahan kalau ingin tetap tinggal di tempat kost saya dan menitip pesan untuk Ibu kost saya yang tidak pernah saya sampaikan hingga saat ini.

Saya menyadari apa yang disampaikan oleh ibu Kost teman saya tersebut memang tidak salah. Saya rasa penilaian mereka itu dapat menjawab rasa penasaran saya sebelumnya. Tapi hal itu membuat saya jadi tambah tidak nyaman.

Setelah beberapa lama saya mencoba bertahan ternyata setelah akhir semester pertama saya ingin sekali pindah kost. Disaat itu saya memutuskan untuk mencari tempat lain yang lebih baik dan kalau bisa tetap murah. Setelah beberapa kali mencari, pada akhirnya saya menemukan tempat yang saya anggap sesuai dengan kriteria saya saat itu. Saat akan benar-benar pindah ternyata ada sebuah kejadian yang membuat saya harus melakukan pertimbangan lagi. 

Saat itu teman sekamar kost saya memberi tahu kalau salah satu teman kost yang lain ada yang mendapat musibah. Memang saya menempati kamar kost yang diisi minimal dua orang, sedangkan ingin tempat kost baru yang hanya seorang satu kamar. Tapi itu bukan alasan utama saya ingin pindah kost.

Saya dan teman sekamar saya langsung menghapiri kamar tempat teman yang mengalami musibah. Ternyata disana sudah berkumpul banyak teman kost saya yang lain. Saya lihat teman yang mengalami musibah itu duduk tertunduk dan menangis padahal dia seorang cowok, saya tanya apa yang terjadi?. Teman saya yang lain menjawab kalau dia baru kehilangan uang saku dan bekal yang diberikan orang tuanya untuk ngekost. Mendengar jawaban tersebut lalu saya bertanya lagi ceritanya bagaimana kok bisa hilang?

Teman saya yang lain menjawab ceritanya dia berangkat ke Surabaya dari tempat asalnya yaitu kota K dengan mengendarai kereta api. Diperjalanan dia meletakkan bekal yang berupa beras yang dibungkus tas kresek  dan uang saku Rp.5000 didalamnya untuk pulang minggu depan dibawah kursi. Saat dalam perjalanan teman saya itu tertidur hingga terbangun ketika sudah sampai di stasiun tujuan. Ketika akan turun dia mencari bekalnya dan ternyata sudah tidak ada. Dia berjalan kaki untuk sampai di kost, padahal jarak stasiun kereta hingga kost tidak kurang dari 15 km.

Saat itu semua teman lain yang mendengar cerita teman saya ini langsung memberi sumbangan untuk bekal sehari-hari dan untuk ongkos pulang minggu depan. Lalu mereka berangsur kembali balik kekamar mereka masing-masing. Saat itu saya masih bertahan karena saya merasa masih ada yang janggal dengan cerita teman saya tersebut.

Saya kemudian bertanya pada teman saya itu :

apakah sampeyan cuma dibekali dengan beras saja untuk bertahan selama seminggu? 

Ternyata diluar dugaan teman saya tersebut menjawab iya, dia memang berbekal beras yang nanti akan dimasak. Untuk memasak memang ada dapur sederhana yang disediakan ibu kost. 

Trus pertanyaan saya berlanjut:

Lalu lauknya apa?

Kalau ada kerupuk ya kerupuk tapi kalau gak ada pakai garam

Saya langsung diam, jaman saya sudah kuliah masih ada yang makan cuma pakai nasi dan garam.

Saya lanjut bertanya Kenapa setiap minggu harus pulang?

Iya untuk membantu orang tua dirumah

Dari pengalaman tersebut, saya kemudian hari berikutnya memantau bagaimana kondisi teman-teman kost tersebut dan yang lain. Apakah memang keseharian mereka demikian atau memang cuma cerita saja agar teman lain iba dan membantunya. Ternyata teman kost saya tidak hanya seorang yang kondisinya mirip. Walaupun rata-rata lebih baik tapi tidak banyak.

Setelah melihat banyak teman yang mungkin kurang beruntung dari saya, maka saya menjadi merasa gak terlalu masalah dengan apa yang dikatakan orang diluar kost. Walaupun memang pada kenyataannya kost saya memang sebanding antara harga dengan fasilitas. Tempat kost tersebut ternyata memberi saya pelajaran diluar bangku kuliah.

Alhasil, saya gak jadi pindah bahkan sampai lulus.

Sebuah Inspirasi dari Game Pesawat Yang Seru

Salam Merdeka

Hari ini posting bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Jadi harus selalu semangat.

Inspirasi seringkali muncul tiba-tiba, kadang disaat merenung sendirian, saat beraktifitas atau bahkan dari memperhatikan kejadian disekitar kita. Seringkali ide muncul akibat pengamatan pada sesuatu yang sering dianggap biasa saja oleh orang lain, maka kita harus siap menangkap momen yang menarik kapanpun. 

Beberapa hari kemarin saya jadi teringat sesuatu. Diantara sekian banyak game santai yang pernah saya mainkan, ada sebuah game yang membuat saya menjadi terinspirasi membuatnya dalam versi saya sendiri. Walaupun saya ingin membuat game dengan alur permainan yang hampir sama tapi ada bagian yang saya pengen membuatnya menjadi berbeda.

Sebelum membuat tambahan yang membedakan game buatan saya dengan game yang menginspirasi saya tersebut, maka sudah pasti saya mesti menyusun konsep dengan mengingat kembali bagaimana bagian-bagian game yang seru untuk dimainkan tersebut.

Game inspirasi tersebut sebenarnya dulu saya temukan di playstore sekitar tahun 2019. Sayangnya sepertinya saya sudah lupa judulnya, sehingga ketika saat ini saya mencarinya lagi ternyata game tersebut sudah tidak lagi dapat saya temukan.

Karena saya ingin memainkannya lagi tapi tidak berhasil menemukannya, maka saya bersemangat untuk membuatnya sendiri berdasarkan ingatan yang mungkin tidak sama persis. Untuk membuatnya, saya kembali menggunakan Construct 2.

Saya memilih Construct 2 dengan alasan agar tidak banyak menulis kode karena sambil banyak mengingat. Saya tidak ingin perhatian saya terdistorsi atau bahkan hilang akibat hanya fokus menulis kode programnya daripada mengingat konsepnya.

Game yang saya mainkan dulu menceritakan sebuah pesawat terbang yang harus menghindari banyak missile musuh yang mengejarnya. Pesawat harus dapat menyelesaikan misi yaitu mengumpulkan bintang sebelum waktu habis.

Pada game tersebut pemain hanya dapat bergerak ke kanan dan kekiri yang membuat pesawat harus begerak memutar untuk menghindari missile yang mengejarnya. Jadi banyak missile musuh akan bergerak menuju pesawat pemain. Pada game yang dulu saya mainkan, pesawat sebagai aktor utama game tersebut tampak dari sudut pandang langit. 

membuat game sendiri dari ingatan main game lain

Dalam memory yang masih saya ingat kurang lebih game akan seperti gambar diatas. Missile yang gagal mengenai pemain akan terus terbang atau meledak dikejauhan.

Semoga saya dapat mewujudkan game dalam bayangan saya. 

Apakah Memang Rumput Tetangga Lebih Hijau?

Minggu kemarin saya merasa lebih sibuk dari biasanya, sebab ada beberapa urusan administrasi yang mengharuskan saya sampai bolak-balik keluar kota. Saya memang menyadari kalau memang niat membereskan suatu masalah maka butuh waktu dan dana yang harus dikorbankan. 

Syukurlah semua urusan itu sekarang sudah selesai, walau memang cukup menyita energi namun dilain sisi ada beberapa hal yang menurut saya penting untuk saya catat.

Dalam beberapa kesempatan disela kesibukan saya sering belajar dari orang-orang yang sukses bagaimana sikap mereka dalam mengatasi masalah mereka yang tentu saja akan selalu muncul sepanjang hayat. Siapa bilang orang sukes itu tidak menemukan masalah yang berarti dalam meniti jalan kesuksesannya, menurut pengamatan saya malah sebaliknya. Mereka sukses akibat sudah menyelesaikan masalah besar yang tidak dapat diselesaikan oleh orang umumnya atau bahkan yang orang lain hindari.

Dari perjalanan beberapa orang sukses yang saya coba pelajari, ternyata banyak masalah yang mereka hadapi dan bahkan gak sedikit yang level kegawatannya diatas rata-rata kebanyakan orang dapati. Uniknya mereka dapat menyelesaikannya dengan baik artinya mereka mampu mengatasinya. 

Dalam mengatasi masalah mereka mereka mungkin pernah mengalami gangguan kestabilan emosi, tapi itu sebentar saja artinya tetap boleh terjadi tapi gak terus-terusan dan mereka segera fokus pada solusi agar dapat menyelesaikan inti masalah mereka. Tapi apabila masalah tersebut belum dapat mereka selesaikan mereka tidak melakukan tindakan negatif dengan mencari pelarian atau seperti shortcut, emosional ataupun menyalahkan yang lain. Kalau belum bisa menyelesaikan, mereka ternyata memilih diam.

Diamnya mereka adalah menahan diri tidak melakukan tindakan ataupun pernyataan yang bisa memperburuk keadaan. Mereka tetap mencoba mencari solusi dengan terus meminta bantuan dari pemilik segala solusi yaitu Tuhan.

bahagiakan diri sendiri


Nah ketika solusi sudah mereka dapatkan dan terbukti dapat menyelesaikan masalah mereka, ternyata mereka tidak berhenti sampai disitu saja. Mereka mencatat, memperbaiki, memoles cara solutif mereka agar lebih baik lagi dan lagi. 

Ternyata masalah itu tetap saja datang tapi karena mereka sudah punya solusinya maka mereka dapat lebih nyaman mengatasinya. Semakin efisien dan efektifnya solusi mereka terhadap suatu masalah maka masalah tersebut tidak memberatkan lagi bagi mereka, kemudian baru mereka tawarkan untuk membantu orang lain yang mendapati masalah yang sama.

Uniknya, tidak semua orang mau menggunakan solusi yang telah teruji dari orang-orang sukses tersebut. Ada saja yang menganggap diri mereka lebih baik tanpa menggunakan solusi yang ditawarkan orang-orang sukses tersebut. Menurut saya sebenarnya gak salah juga, asalkan tidak menyombongkan diri atau merendahkan solusi orang yang lebih dulu berhasil.

Dan respon orang-orang sukses yang solusinya ditolak orang lain ternyata merupakan rahasia kenapa mereka tetap heppy saja dalam menghadapi penolakan. Respon mereka sebenarnya sederhana saja yaitu adalah gak peduli alias gak ambil pusing, karena mereka mau bantu tapi yang dibantu gak mau berarti ya sudah no problemo. 

Kalau suatu solusi ataupun karya tidak disukai orang lain maka bagi orang sukses hal itu tidak masalah mereka akan tetap menyukai karya mereka sendiri,  sebab karya itu bermanfaat bagi mereka sendiri. Urusan orang lain tidak sama dengan mereka ya silahkan saja.

Jadi inti dari pemikiran orang-orang sukses yang dapat saya tarik adalah "bahagikan saja diri sendiri dulu kalau sudah bisa bahagia baru bahagiakan orang lain". Pernyataan ini sangat masuk akal sebab gak mungkin orang dapat mengajak orang lain bahagia apabila dirinya sendiri tidak bahagia. 

Semoga selalu berbahagia

Belajar Dari Mahluk Tak Kasat Mata

Sinar matahari cerah keemasan semburat di langit biru menyambut kita di hari ini, Syukur kepada Tuhan semoga anggota keluarga semua sehat demikian juga pembaca blog ini. 

Disaat era informasi ini..

Setiap orang tentu boleh punya pendapat sendiri, sebab biasanya seseorang akan punya sudut pandang berdasarkan latar belakang masing-masing. Sebagaimana foto yang tampak dari satu angle sangat menarik tapi bila dilihat dari sudut lainnya ternyata tidak mesti demikian. Semakin kita pandai memperluas sudut pandang, kita dapat semakin bijak dalam menakar sesuatu.

Disela kesibukan mewujudkan ide-ide yang terngiang dalam kepala, beberapa minggu terakhir ini saya sedang tertarik mengulik informasi seorang penulis cerita horor yang berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami bersama teman-teman "huntunya" iya gak boleh disebut hantu. Anda tentu paham siapa yang saya maksud apalagi bila anda adalah seorang pembaca novel horor yang karyanya banyak diangkat menjadi film layar lebar. 

Iya penulis tersebut adalah Risa Saraswati.

Walaupun lebih muda dari saya, namun rupanya banyak pengalamannya yang harus saya catat. Banyak yang dapat saya ambil sebagai pelajaran dari pengalaman hidupnya hingga menorehkan karya-karyanya, sehingga membuat saya menjadi tertarik mengulik lebih jauh. 

teman risa peter cs
Coba tebak Risa yang mana? 
(maaf kalau gambar ini saya pakai disini)

Salah satunya tentang hal pertemanan. Berteman dengan manusia hidup saja menurut saya sudah susah,  apalagi bagaimana dengan sosok-sosok yang tak kasat mata itu. Namun, entah kenapa saya senang dengan orang-orang unik yang pandai menghargai hal yang dianggap aneh atau remeh (gak guna) bahkan bagi orang normal harus dijauhi.

Maksud saya bukan kita harus berteman dengan mahluk halus, tapi yang menarik bagi saya yaitu sang penulis berhasil menaklukkan ketakutannya sehingga malah akrab dan berteman dengan mereka.

Walaupun memang awalnya dia tidak sadar kalau teman-temannya yaitu Peter Cs adalah bukan manusia "lagi". Namun pada beberapa teman lain contohnya seperti Asih, Elizabeth, Ivanna atau lainnya yang tentu akan membuat urat keberanian orang biasa akan menyusut bahkan bisa menguap habis tak tersisa, tentu itu bukan hal yang mudah buat berteman apalagi sampai membuat karya tentang mereka.

Banyak hal yang mungkin gak sesuai dengan yang kita harapkan, oleh sebab itu diperlukan rasa toleransi yang tinggi tapi juga tidak larut sehingga malah menjadi toksik.  Dibalik cerita masing-masing karakter tersebut, banyak hal juga yang saya belajar dari teman-teman Risa tersebut yang notabene gak bisa dilihat mata biasa. 

Mungkin benar bahwa kita tidak boleh percaya pada Jin atau mahluk lain sepenuhnya, bahkan kalau boleh jujur dengan sesama manusia pun kita juga harus tetap hati-hati. Tapi ada suatu pelajaran bagi saya dimana banyak hal yang tidak lagi bisa mereka lakukan ketika sudah mati. 

Walaupun mereka masih dapat melakukan sesuatu yang melebihi kita manusia hidup tetapi kemampuan mereka tidak dapat menolong mereka sehingga menjadi lebih baik. 

Jadi bagaimanapun susahnya hidup, semoga kita selalu ingat bahwa kita cuma lakon yang harus menyelesaikan "cerita" dengan bahagia. Sehingga kita musti syukuri nikmat Tuhan dan jangan pernah berputus asa.

Semoga semua yang membaca tulisan ini atau karya-karya Risa atau nonton channel Jurnal Risa dapat mengambil hikmah yang baik mumpung kita masih hidup. 

Mungkin ini sudut pandang yang dapat saya tuliskan, walaupun masih banyak nilai lainnya yang dapat saya ambil dari seorang Risa bersama Tim Jurnal Risanya tidak saya tulis disini. Salut buat mereka..

Anda juga boleh punya sudut pandang sendiri, silahkan ditulis dikolom komentar bila berkenan.

Pengalaman Lucu Saat Memanfaatkan Google Translate

Google Translate memberi pengalaman dan wawasan baru kepada saya bahwa saat terdesak kita sebenarnya bisa survive dengan cara yang mungkin kadang terlihat sepele. Dulu saya memang kurang perhatian dengan layanan Google yang satu ini, tetapi setelah mendapat suatu pengalaman yang bisa dibilang konyol membuat saya mengubah pandangan terhadapnya.

Perlu diketahui bahwa Google translate adalah suatu layanan Google untuk menterjemahkan suatu kata atau kalimat dari bahasa tertentu ke bahasa lainnya. Maka tidak heran apabila aplikasi ini baru akan terasa ada gunanya apabila kita sedang berada pada kondisi harus segera memahami atau menyampaikan maksud dalam bahasa lain.

Sebenarnya kalau bisa memilih maka saya lebih suka menghafal kosa kata bahasa lain dari pada harus mengandalkan suatu aplikasi atau tool. Tapi saya juga sadar bahwa kita bisa menghadapi kondisi darurat sewaktu-waktu, dan sebagaimana setiap manusia biasa dengan keterbatasannya masing-masing, maka untuk surfive boleh saja menggunakan alat yang sudah tersedia apalagi gratis.

Jadi ceritanya terjadi beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang berada di Negeri Gajah Putih.

Saat suatu malam di kota Bangkok, saya ingin jalan-jalan dengan seorang teman saya untuk mengamati kehidupan sosial masyarakat lokal disana. Berbeda dengan turis yang biasanya ke tempat wisata, saya memang ingin mengenal bagaimana keseharian masyarakat disana. Kami saat itu memang sengaja memilih jalan masuk ke gang atau kampung agar dapat membaur dengan masyarakat.

Setelah lama berjalan di wilayah pemukiman penduduk, tibalah kami di area pinggir sungai yang diterangi dengan banyak lampu. Cahaya terang lampu itu tidak hanya berasal dari rumah penduduk tapi ada beberapa lampu yang sengaja dipasang dipinggir sungai. 

Berbeda dengan kebiasaan di negeri kita ini dimana masyarakat melakukan mobilisasi lebih banyak melalui jalan darat, disana masyarakat Bangkok masih banyak yang mengandalkan moda transportasi  air lewat sungai.

Saat itu kami tertarik dengan sebuah warung ditepi sungai yang ramai sekali dikunjungi muda mudi. Kami langsung berfikir kalau itu adalah cafe yang menyediakan minuman dan makanan kecil yang banyak dinikmati masyarakat umum. Karena haus setelah lama berjalan kaki, maka kamipun bergegas kesana.

Sampai diwarung tersebut kami memperhatikan ternyata ada menu dengan gambar kopi dan beberapa makanan yang kami tidak paham bagaimana itu yang ditulis daftar menu. Kemudian kami mencoba berinteraksi dengan pelayan menggunakan bahasa Inggris untuk memesan beberapa menu.

Setelah memesan beberapa menu pelayan tersebut terlihat bingung. Ternyata pelayan tersebut malah gak paham. Tidak kurang akal maka kami memesan menu dengan bahasa isyarat yaitu tinggal tunjuk menu dan acungan jari tanda jumlah pesanan, syukurlah akhirnya pelayan itu dapat mengerti maksud kami. Sampai disitu saya dan teman saya mencari tempat duduk dan bercakap-cakap mengenai perjalanan kami dan tujuan berikutnya.

Saat pesanan kami datang, pelayanan yang membawakan pesanan tersebut terlihat menyimak percakapan kami dan manggut-manggut agaknya mengerti dengan apa yang kami bicarakan. Saya cukup kaget karena saya dan teman saya saat itu bercakap dengan bahasa Indonesia. Saya mencoba interaksi kembali dengan pelayan tersebut menggunakan bahasa Indonesia, dan reaksinya bukan segera menjawab tapi dia malah memanggil teman-temannya ternyata mereka lebih paham bahasa Indonesia. 

Walhasil kamipun berbincang sejenak dimana ternyata mereka adalah orang-orang dari Thailand bagian selatan sehingga banyak yang menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa keseharian. Mereka banyak merantau ke Bangkok untuk mencari peruntungan. Maka tidak heran apabila banyak yang lebih mengerti bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris disana. Walaupun tidak persis sama tapi kurang lebih mirip seperti kita nonton Ipin dan Upin.

Kamipun dipersilahkan menikmati sajian minum kopi dan teh. Padahal sebenarnya kami pesan kopi saja diwarung tersebut, setelah melihat cara minum kopi pengunjung yang lain ternyata cara minum kopi diwarung itu agak unik. Yaitu kopi ditemani dengan teh tanpa gula. Karena memang penyajiannya pesan kopi maka diberi lengkap dengan teh dan tatacaranya disana demikian maka kami ikuti saja.

Minum secangkir kopi disana ternyata gak ada manis-manisnya sama sekali, beda dengan di Indonesia yang mana air mineral saja "ada manis-manisnya". Untuk menawarkan rasa pahit itu ternyata caranya minum sedikit teh dengan gelas kecil seukuran sloki. Cara unik ini ternyata membuat rasa minum kopi disana menjadi lebih nikmat.

Setelah puas ngopi dan berbicang kamipun bergegas membayar dan bermaksud segera balik kembali ke hotel tempat kami menginap karena memang sudah lepas tengah malam. Hampir semua pelayan disana memberi salam perpisahan yang membuat saya dan teman saya jadi terharu.

Kamipun kembali berjalan dengan rute yang sama dengan arah sebaliknya dengan saat kami berangkat. Setelah berapa saat, akhirnya sampailah kami diarea hotel tempat kami menginap. Nah disinilah akan terjadi kejadian yang lebih unik lagi. 

Saat kami sampai di hotel ternyata pintu utama penginapan tersebut sudah ditutup dan lampu-lampu telah dipadamkan sebagian. Saya baru tahu kalau hotel disana lampunya dimatikan hanya menyisakan beberapa lampu dengan cahaya redup saja sebagian kalau malam. Karena pintu utama sudah tertutup maka untuk masuk hotel kami harus masuk melalui pintu samping dan lorong yang melewati ruang sekuriti.

Oleh seorang sekuriti kami ditanyai dan ternyata kami tidak diperbolehkan masuk tanpa menunjukkan bukti sebagai tamu hotel. Kami memang masing-masing kebetulan tidak membawa kunci hotel atau apapun yang dapat menunjukkan bahwa kami adalah tamu hotel itu. 

Sekedar info kalau saya dan teman saya tersebut tidak sekamar dan masing-masing ada teman lain yang sudah istirahat duluan dikamar. Masalahnya kami tidak ingin mengganggu teman kami yang sudah bobo buat repot-repot bantu kami agar bisa masuk hotel ditengah malam.

Kami pun mencoba menjelaskan sebisa kami dengan bahasa Inggris, tapi seperti kejadian di warung tadi ternyata sekuriti juga gak paham bahasa Inggris. Berbekal pengalaman tadi, kemudian kami coba pakai bahasa Indonesia mungkin saja sekurity jadi paham. Eh ternyata dia tetap gak paham, karena mungkin tampaknya kami berusaha menjelaskan dengan gigih. Maka kami dibawa kebagian resepsionis agar kami dapat menjelaskan bahwa kami adalah tamu dengan nomor kamar masing-masing.

Di meja resepsionis kami bertemu dengan seorang cewek yang sepertinya sedang sibuk sekali menghitung sesuatu, entah apa itu dalam bukunya. Kami mencoba menjelaskan padanya dengan pelan-pelan mungkin saja mereka gak paham karena kami ngomongnya kecepetan. Walaupun ternyata endingnya tetap saja gak paham.

Setelah panjang lebar gak ada hasil, pada akhirnya teman saya berinisiatif untuk mentranslate bahasa Indonesia ke bahasa Thai dengan Google Translate.

google translate bahasa Indonesia ke bahasa thailand
ilustrasi translate bahasa, saat itu yang kami tulis tentu lebih menarik

Awalnya saya pesimis dengan cara yang dilakukan oleh teman saya, tapi gak ada salahnya juga dicoba. Dan setelah ditulis lalu diterjemahkan melalui Google translate, kemudian muncul aksara mirip tulisan huruf Jawa yang "mlungker-mlungker" itu.

Saat teman saya menunjukkan tulisan itu ke resepsionis, sang cewek itupun tidak langsung bereaksi kecuali cuma senyum beberapa detik. Nah saat melihat dia tersenyum saya dan teman saya secara gak sadar  juga ikutan senyum. 

Tapi sebentar.. saya dan teman saya kok jadi Ge-er, apa mungkin kalimat yang ditranslate artinya jadi lain?

Beberapa saat kemudian sang resepsionis pun memberi kami ijin untuk pergi menuju kamar ditemani dengan sekuriti tadi. Syukurlah akhirnya kamipun diantar sampai depan kamar.

Saya jadi mikir, ternyata bahasa Inggris yang saya kira bisa kami andalkan sebagai bahasa internasional, ternyata gak laku di Thailand. Syukur Alhamdulillah Tuhan masih menolong lewat Google Translate. Kan gak lucu juga kalau pesan kamar lagi, sedangkan barang-barang kami sudah ada didalam kamar lain.